Selama ini, Primbon seringkali dianggap sebelah mata sebagai kumpulan ramalan yang tidak berdasar. Namun, jika kita menyelami lebih dalam dengan kacamata psikologi perilaku dan analisis data, kita akan menemukan bahwa Primbon adalah bentuk awal dari Psikometrik—ilmu yang mengukur fungsi mental dan perilaku manusia.
Manusia modern bangga dengan kemampuan Big Data untuk memprediksi perilaku konsumen. Ribuan tahun lalu, leluhur kita melakukan hal yang serupa secara empiris. Mereka mengamati, mencatat, dan mengelompokkan karakteristik orang berdasarkan waktu kelahirannya. Proses "pengenalan pola" (pattern recognition) yang dilakukan selama berabad-abad ini kemudian dikristalisasi menjadi rumus-rumus Weton.
Karakter yang digambarkan dalam Primbon mirip dengan teori kepribadian modern seperti Big Five Personality Traits atau MBTI. Bedanya, Primbon menggunakan metafora alam. Misalnya, "Laku Ning Geni" (Berperilaku seperti api) menggambarkan individu yang ekstrovert, energik, namun mudah tersinggung—deskripsi yang sangat akurat secara psikologis untuk tipe kepribadian koleris.
Dalam psikologi, dikenal istilah Self-Fulfilling Prophecy atau ramalan yang mewujudkan dirinya sendiri. Ketika seseorang membaca Primbon dan dikatakan bahwa ia memiliki bakat kepemimpinan yang besar, maka secara tidak sadar ia akan mulai berperilaku sebagai pemimpin. Keyakinan (belief system) ini memicu peningkatan kepercayaan diri yang pada akhirnya benar-benar membawa kesuksesan dalam kariernya. Inilah sisi positif Primbon sebagai alat motivasi psikologis.
Banyak masyarakat Jawa menggunakan Primbon untuk menenangkan hati saat menghadapi masalah. Dengan mengetahui ada "Hari Baik" di masa depan, seseorang akan memiliki harapan (hope). Dalam terapetik modern, memiliki harapan adalah elemen kunci untuk kesehatan mental. Primbon berfungsi sebagai peta navigasi mental yang memberikan rasa kontrol (sense of control) atas hidup yang seringkali terasa tidak menentu.
"Primbon sebenarnya adalah jembatan antara logika alam semesta dan psikologi manusia. Ia tidak mengajarkan kita untuk pasrah pada nasib, tapi mengajak kita memahami keunikan psikologis kita untuk mencapai harmoni hidup."
Menyebut Primbon murni mistis adalah bentuk penyederhanaan yang keliru. Ia adalah Local Wisdom yang mengandung prinsip-prinsip observasi data dan pemahaman mendalam tentang jiwa manusia. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai Primbon ke dalam pemikiran modern, kita bisa mendapatkan pandangan hidup yang lebih seimbang—di mana teknologi mendukung kita secara fisik, dan kearifan lokal menenangkan kita secara spiritual.