Dalam perjalanan hidup, seringkali kita merasa tertimpa masalah yang bertubi-tubi atau merasa ada sesuatu yang menghambat kemajuan kita (Sengkolo). Masyarakat Jawa memiliki solusi spiritual untuk fenomena ini melalui Tradisi Ruwatan. Ruwatan bukan sekadar pertunjukan wayang, melainkan sebuah metafora pembebasan jiwa dari belenggu energi negatif.
Secara bahasa, Ruwat berarti "luwar" atau lepas. Ritual ini bertujuan untuk melepaskan manusia dari bayang-bayang kegelapan atau nasib sial yang disebabkan oleh ketidakseimbangan energi batin. Inti dari Ruwatan sebenarnya adalah pengakuan diri akan kesalahan masa lalu dan niat kuat untuk memperbaiki diri di masa depan melalui perantara doa dan simbolisme alam.
Dalam kitab Primbon, ada kategori orang yang disebut *Sukerto*—orang yang secara alami memiliki kerentanan energi karena urutan kelahirannya. Misalnya, anak tunggal (Ontang-anting) atau anak yang memiliki saudara kembar. Ruwatan hadir untuk memberikan "perlindungan tambahan" dan ketenangan mental bagi mereka agar bisa menjalani hidup dengan lebih percaya diri.
Anda tidak selalu harus melakukan upacara besar untuk meruwat diri. Ruwatan sejati dimulai dari pembersihan hati (Resik Ati). Melakukan puasa, memperbanyak sedekah kepada mereka yang kurang mampu, dan melakukan meditasi permohonan ampun kepada Tuhan adalah bentuk ruwatan modern yang paling efektif. Energi negatif tidak akan bisa menempel pada seseorang yang jiwanya penuh dengan cahaya kasih sayang dan syukur.
"Ruwatan adalah penegasan bahwa tidak ada nasib yang tidak bisa diubah. Dengan kemauan yang kuat untuk memperbaiki batin, semesta akan membukakan jalan kemudahan bagi Anda."
Tradisi Ruwatan mengajarkan kita untuk tidak pasrah pada keadaan. Ia memberikan harapan dan sarana untuk bertransformasi menjadi manusia yang lebih baik, lebih bersih, dan lebih berdaya dalam menghadapi tantangan zaman.